Rabu, 03 Desember 2008

picung

Buah Picung untuk Awetkan Ikan Basah
BOGOR - Buah picung (Pangium edule reinw) bisa digunakan untuk mengawetkan ikan basah, khususnya bagi nelayan yang tinggal di daerah terpencil. Selain praktis, biayanya pun lebih murah dibandingkan dengan mempergunakan es batu.
Demikian dikemukakan pakar perikanan Dr Endang Sri Heruwati, di Bogor, Selasa (17/1), menanggapi hasil penelitian RA Hangesti Emi Widyasari, mahasiswa Pascasarjana IPB, yang berhasil meneliti soal buah picung yang bermanfaat untuk mengawetkan ikan basah, di Kampus IPB, Senin (16/1).
Pakar pada Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perairan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu mengungkapkan, sebenarnya, teknologi pengawetan ikan basah yang paling andal adalah es batu. Cara itu juga dilakukan di negara- negara maju.
Selain suhunya yang rendah sehingga tidak merusak ikan, ada efek pelicin sehingga mampu menyuci kotoran dan bakteri dari permukaan ikan. "Jadi kalau dari dulu nelayan sudah memakai es, ya sudah pakai es saja, tidak perlu memakai formalin lagi," ungkap Endang Sri Heruwati.
Tapi, bagi nelayan yang tinggal di daerah terpencil, untuk mendapatkan es batu masih menjadi kendala. Selain mahal, bongkahan es yang dibawa ke dalam kapal juga memakan tempat di palka.
Karena itu, bagi nelayan yang tinggal di daerah terpencil, yang sulit untuk mendapatkan es, bisa menggunakan buah picung untuk mengawetkan ikan basah. Ikan bisa awet selama sekitar enam hari.
Selain itu juga lebih praktis. "Diharapkan nantinya buah picung bisa dibudidayakan dan diambil bahan aktifnya untuk digunakan sebagai bahan pengawet, khusunya untuk ikan basah," katanya.
Ketika disinggung apa perbedaannya dengan Chitosan, bahan pengawet yang merupakan hasil penemuan peneliti perikanan dari FPIK IPB juga, Endang mengatakan, perbedaan antara picung dengan chitosan adalah, picung khusus untuk mengawetkan ikan basah, misalnya ikan kembung. Sedangkan chitosan untuk mengawetkan ikan asin.
"Chitosan tidak efektif kalau untuk mengawetkan ikan segar, apalagi produksi ikan dari perairan Indonesia sekitar 5 juta ton per tahun. Chitosan belum bisa diproduksi untuk mengawetkan ikan sebanyak itu," tutur Endang.
Prof John Haluan, guru besar FPIK IPB, yang menjadi dosen pembimbing mahasiswa Pascasarjana IPB mengatakan, buah picung dapat mengawetkan ikan selama enam hari tanpa mengurangi mutunya. Aspek positif dari pohon picung, selain dapat dibudidayakan, juga punya efek berantai untuk mengantisipasi longsor.
Ia berharap nantinya, pohon picung bisa dibudidayakan untuk bahan mengawetkan ikan segar atau basah.
Sementara itu, RA Hangesti Emi Widyasari, mahasiswa S-2 Program Studi Teknologi Kelautan Pascasarjana IPB, yang berhasil meneliti tentang manfaat buah picung sebagai bahan untuk mengawetkan ikan segar/basah mengatakan, masyarakat nelayan di daerah Labuan Banten banyak menggunakan buah picung sebagai bahan untuk mengawetkan ikan.
"Untuk mengawetkan ikan segar/basah itu, mereka lakukan dengan cara melumuri seluruh tubuh dan insang ikan menggunakan buah picung yang sudah dicacah. Kalau di daerah Banten harga buah picung yang sudah dicacah sekitar Rp. 10.000/kg, dan itu cukup untuk mengawetkan sekitar 50 kg ikan segar.
Harga buah picung ini jauh lebih murah dibandingkan dengan harga es," jelas Hangesti. (HR/N-6)

Tidak ada komentar: